Sejumlah
faktor budaya dapat mempengaruhi klien dalam memilih metode kontrasepsi.
Faktor-faktor ini meliputi salah pengertian dalam masyarakat mengenai berbagai
metode, kepercayaan religious serta budaya, tingkat pendidikan, persepsi
mengenai resiko kehamilan, dan status wanita. Penyedia layanan harus menyadari
bagaimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi pemilihan metode di daerah mereka
dan harus memantau perubahan-perubahan yang mungkin mempengaruhi pemilihan
metode.
1. Kesalahan
perpsepsi mengenai suatu metode
Banyak
klien membuat keputusan mengenai kontrasepsi bedasarkan informasi yang salah
yang diperoleh dari teman dan keluarga atau dari kampanye pendidikan yang
membingungkan. Informasi yang diperoleh dari penyedia layanan dan sumber lain
dapat menyesatkan atau sensasional, dengan sifat-sifat positif metode kurang
diajukan atau diabaikan, sedangkan sifat-sifat negatif diperbesar. Rumor yang
sering beredar meliputi adanya pemakai kontrasepsi oral yang melahirkan
monster, AKDR yang mengembara di dalam tubuh dan akhirnya dapat mematikan
pemakai, dan kepercayaan bahwa pemakaian metode reversible yang dapat
menyebabkan wanita steril. Selain mempengaruhi pemilihan metode, rumor dapat
menyebabkan kesalahan pemakaian metode sehingga terjadi kegagalan metode.
Penyedia layanan keluarga berencana harus mewaspadai setiap rumor yang banyak
ditemukan di masyarakat dan memperbaiki kesalahan persepsi mengenai
metode-metode tertentu.
2. Kepercayaan
religious dan budaya
Di
beberapa daerah, kepercayaan religious atau budaya dapat mempengaruhi klien
dalam memilih metode. Sebagai contoh, penganut Katolik yang taat membatasi
pemilihan kontrasepsi mereka pada keluarga berencana alami. Sebagian pemimpin
Islam mengklaim bahwa sterilisasi dilarang, sedangkan sebagian lainnya
mengizinkan. Walaupun agama Islam tidak melarang pemakaian metode kontrasepsi
secara umum, para akseptor wanita mungkin berpendapat bahwa pola perdarahan
yang tidak teratur yang disebabkan oleh sebagian metode hormonal akan sangat
menyulitkan karena selama haid mereka dilarang bersembahyang. Di sebagian
masyarakat, wanita Hindu dilarang mempersiapkan makanan selama haid sehingga
pola haid yang tidak teratur ddapat menjadi masalah.
3. Tingkat
pendidikan
Tingkat
pendidikan tidak hanya mempengaruhi kerelaan menggunakan keluarga berencana,
tetapi juga pemilihan suatu metode. Beberapa studi telah memperlihatkan bahwa
metode kalendere lebih banyak digunakan oleh pasangan yang lebih berpendidikan.
Dihipotesiskan bahwa wanita yang berpendidikan menginginkan keluarga berencana
yang efektif, tetapi tidak rela untuk mengambil resiko yang terkait dengan
sebagian metode kontrasepsi modern.
4. Persepsi
resiko kehamilan
Persepsi
pasangan terhadap resiko kehamilan tidak saja mempengaruhi keputusan untuk
menggunakan kontrasepsi, tetapi juga dalam pemilihan metode kontrasepsi
tertentu. Individu yang menganggap diri mereka tidak beresiko tinggi untuk
hamil, seperti yang sering dijumpai pada remaja, mungkin menggunakan metode
yang kurang efektif, itu pun bila menggunakan.
5. Status
wanita
Status wanita dalam
masyarakat mempengaruhi kemampuan mereka memperoleh dan menggunakan berbagai
metode kontrasepsi. Di daerah-daerah yang status wanitanya meningkat, sebagian
wanita akan memiliki pemasukan yang lebih besar untuk membayar metode-metode
yang lebih mahal serta memiliki lebih banyk suara dalam mengambil keputusan.
Juga di daerah-daerah yang wanitanya lebih dihargai, mungkin hanya terdapat
sedikit pembatasan dalam memperoleh berbagai metode, misalnya peraturan yang
mengharuskan persetujuan suami sebelum layanan keluarga berencana dapat
diperoleh
0 Responses to “ Keluarga Berencana Dari Sudut Pandang Budaya”
Posting Komentar