BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Tingginya
tuntutan kebutuhan pendidikan dari
masyarakat, yang demikian mendesak tidak selalu dapat dipenuhi oleh pendidikan
formal (sekolah). Faktor penyebab belum terpenuhinya kebutuhan melalui
pendidikan formal, karena berbagai
alasan atau keterbatasan yang ada, seperti faktor ekonomi, sosial, budaya,
psikologis dan geografis. Namun, mereka
yang tidak terlayani oleh pendidikan formal, tetap harus memperoleh pelayanan
pendidikan secara layak, salah satunya melalui pendidikan nonformal (PNF).
Mereka diharapkan dapat terlepas dari keterpurukan dan ketidakberdayaan. Hal
ini searah pula dengan kebijakan
pemerintah, yang menyatakan bahwa pembangunan bidang pendidikan di
Indonesia harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan
mutu, serta relevansi dan efisiensi
manajemen pendidikan untuk menghadapi tuntutan dan tantangan perkembangan
masyarakat sesuai dengan perubahan kehidupan lokal, nasional, maupun global.
Undang-undang Dasar
1945 pasal 28 C ayat (1) menyatakan bahwa “Setiap orang berhak mengembangkan
diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan
memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi
meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia”. Pasal ini
mengisyaratkan bahwa semua warga masyarakat tanpa kecuali berhak mendapatkan
pendidikan yang bermutu. Untuk memenuhi kebutuhan belajar warga masyarakat
secara luas, maka pemerintah menetapkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan
Nasional, Bab VI, Pasal 13 Ayat (1)
dikemukakan bahwa: Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal dan informal
yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Salah satu bentuk dan/atau layanan
pendidikan nonformal, sesuai pasal 26, ayat (3) adalah pendidikan kesetaraan.
Berdasarkan pasal 26 ayat (3) menyatakan bahwa pendidikan
kesetaraan adalah program pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program
paket A setara SD/MI, program paket B
setara SMP/MTs, dan program paket C setara SMA/MA. Program ini ditujukan bagi peserta didik yang
berasal dari masyarakat yang kurang beruntung, tidak sekolah, putus sekolah dan
putus lanjut, serta usia produktif yang ingin meningkatkan pengetahuan dan
kecakapan hidup, dan warga masyarakat lain yang memerlukan layanan khusus dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai dampak dari perubahan peningkatan taraf
hidup ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pendidikan kesetaraan secara
umum bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada warga masyarakat untuk
mengikuti pendidikan dasar dan menengah yang bermutu dan relevan dengan
kebutuhan peserta didik yang tidak memiliki kesempatan belajar pada pendidikan
formal.
Ketenagaan di lingkungan
Pendidikan Non Formal dan Informal diantaranya tutor, mempunyai peranan yang
sangat strategis dalam pencapaian visi dan misi Pendidikan Non Formal dan
Informal, oleh karena itu perlu diperhatikan, bahwa keberhasilan program Pendidikan
Non Formal dan Informal sangat dipengaruhi oleh kualitas ketenagaan
dilingkungan Pendidikan Non Formal dan Informal.
Program
pendidikan kesetaraan menempati posisi strategis membantu Pemerintah dalam
menuntaskan wajib belajr 9 tahun. Pada tahun 2004 (Bappenas) bahwa APM SMP/MTS
baru mencapai 65,24% yang berarti masih 4,74% anak usia 13 – 15 tahun belum
terlayani pendidikan SMP/MTS, angka tersebut berkisar 4.5 juta. Dengan data
tersebut untuk membantu menuntaskan jumlah yang belum terlayani tersebut yaitu
melalui pendidikan kesetaraan yaitu program paket B setara SLTP dan program Paket A setara SD.
Tutor
harus senantiasa mampu melakukan improvisasi atas kegiatan pembelajarannya,
agar proses pembelajaran dari waktu ke waktu mengalami perbaikan.
Perbaikan-perbaikan itu bisa dilakukan dengan berbagai cara diantaranya dengan
melakukan variasi pembelajaran, penggunaan strategi pembelajaran seperti kelas
campuran dan pembelajaran mandiri.
Disamping
itu tutor juga bisa melakukan kegiatan perbaikan-perbaikan terhadap kinerjanya
sebagai tenaga pendidik dan perbaikan terhadap hasil belajar siswa. Kegiatan
memperbaiki kualitas mengajar dan memperbaiki hasil belajar bisa dilakukan
dengan melakukan penelitian tindakan di
kelasnya. Penelitian ini bisa dilakukan sambil tutor melakukan pembelajaran.
Penelitian ini dikenal dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Makalah ini
paling tidak diharapkan akan memberikan inspirasi bagi tutor pendidikan
kesetaraan program Paket A dan B, untuk melakukan penelitian dikelasnya atau
dalam pembelajarannya sehingga terjadi perbaikan-perbaikan dalam hasil
belajarnya.
B. Ruang
Lingkup Pembahasan
1. Pendidikan Kesetaraan Program Paket A
2. Konsep Penelitian Tindakan Kelas
3. Peran Tutor dalam Implementasi Penelitian Tindakan
Kelas di pembelajaran Program Paket A
C. Ruang
Lingkup Makalah
Bab I Pendahuluan
A.
Latar Belakang
B.
Lingkup Pembahasan
C.
Ruang Lingkup Makalah
Bab II Pembahasan
- Pendidikan
Kesetaraan Program Paket A
- Konsep Penelitian
Tindakan Kelas
- Peran Tutor dalam
Implementasi PTK di pembelajaran program Paket A
Bab III Kesimpulan
- Kesimpulan
- Saran
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENDIDIKAN
KESETARAAN PROGRAM PAKET A
Pemerintah
menetapkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, Bab VI, Pasal 13 Ayat (1) dikemukakan bahwa:
Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan
formal, nonformal dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.
Salah satu bentuk dan/atau layanan pendidikan nonformal, sesuai pasal 26, ayat
(3) adalah pendidikan kesetaraan.
Selanjutnya
Pasal 26 ayat (3) dan penjelasannya, dikemukakan bahwa pendidikan kesetaraan
adalah program pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan umum
setara SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA yang mencakup program Paket A, Paket B, dan
Paket C. Program ini ditujukan bagi
peserta didik yang berasal dari masyarakat yang kurang beruntung, tidak
sekolah, putus sekolah dan putus lanjut, serta usia produktif yang ingin
meningkatkan pengetahuan dan kecakapan hidup, dan warga masyarakat lain yang
memerlukan layanan khusus dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai dampak dari
perubahan peningkatan taraf hidup, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pendidikan
Kesetaraan program Paket A merupakan salah satu program PNF yang ditujukan bagi
bagi mereka yang putus sekolah (drop out) sebelum menamatkan SD/MI. Berdasarkan
Penjelasan Pasal 17 dan Pasal 18 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan yang sederajat dengan
SD/MI adalah program seperti Paket A, dan setiap peserta didik yang lulus ujian
program Paket A mempunyai hak eligibilitas yang sama dan setara dengan pemegang
ijazah SD/MI untuk dapat mendaftar pada satuan pendidikan yang lebih tinggi.
Program
ini bisa dilaksanakan dengan waktu pembelajaran yang rdisepakati bersama antara
warga belajar dengan tutor dan penyelenggara. Struktur kurikulum program paket
A kini mengacu pada KTSP yang disusun oleh masing-masing daerah. Sementara
pemerintah memberikan standard –standar kompetensi yang harus dicapai seperti
tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 14 Tahun 2007 tentang
Standar Isi Untuk Program Paket A, Program
apaket B, Dan Program Paket C
Struktur
kurikulum program Paket A merupakan pola susunan mata pelajaran dan beban
belajar yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran,
meliputi mata pelajaran, dan bobot satuan kredit kompetensi (SKK).
Adapun struktur sebaran mata pelajaran Program Paket A,
sebagaimana tersaji pada tabel berikut.
Tabel 2
Struktur Kurikulum Paket A
Mata Pelajaran
|
Bobot Satuan Kredit Kompetensi (SKK)
|
|||
Tingkatan 1 /
Derajat Awal
Setara Kelas I - III
|
Tingkatan 2 /
Derajat Dasar setara Kelas IV-VI
|
Jumlah
|
||
1.
|
Pendidikan Agama
|
9
|
9
|
18
|
2.
|
Pendidikan Kewarganegaraan
|
9
|
9
|
18
|
3.
|
Bahasa Indonesia
|
15
|
15
|
30
|
4.
|
Matematika
|
15
|
15
|
30
|
5.
|
Ilmu Pengetahuan Alam
|
12
|
12
|
24
|
6.
|
Ilmu Pengetahuan
Sosial
|
9
|
9
|
18
|
7.
|
Seni Budaya
|
6
|
6
|
12
|
8.
|
Pendidikan Jasmani, Olahraga
dan Kesehatan
|
6
|
6
|
12
|
9.
|
Keterampilan Fungsional *)
|
9
|
9
|
18
|
10.
|
Muatan Lokal **)
|
6**)
|
6**)
|
12**)
|
11.
|
Pengembangan Kepribadian Profesional
|
6
|
6
|
12
|
Jumlah
|
102
|
102
|
204
|
|
Keterangan:
*)
Pilihan mata pelajaran
**)
Substansinya dapat menjadi bagian dari mata pelajaran yang ada, baik
mata pelajaran wajib maupun pilihan. SKK untuk subtansi muatan lokal termasuk
ke dalam SKK mata pelajaran yang dimuati.
Penyelenggaraan
Program Paket A, selama ini dirasakan masih menemui berbagai kendala,
salahsatunya adalah disebabkan
jumlah peserta didik pada setiap kelas
tidak memenuhi batas minimal yaitu 35 orang berdasarkan standar isi. Mereka
tersebar pada beberapa lokasi, sehingga proses pembelajarannya dianggap kurang
efisien apabila satu orang tutor mengajar pada satu kelas yang di bawah jumlah
batas minimal, kurang bervariasinya proses pembelajaran yang dilakukan oleh
tutor dan pencapaian tujuan belajar tiap pertemuan pembelajaran yang masih
minimal.
Beberapa kendala tersebut memang menjadi
focus untuk dipecahkan sehingga program paket A dapat dilaksanakan dengan
berhasil sesuai dengan harapan. Peran tutor sendiri di dalam proses
pembelajaran memiliki peran yang cukup menentukan. Selain sebagai pendidik,
tutor juga sebagai seorang motivator bagi warga belajar. Sebagai pihak yang
selalu bertemu langsung, tentu tutor selalu merasakan berbagai kendala dalam
proses pembelajarannya, oleh karena itu tutor diharapkan mampu mengelola pembelajarannya menjadi lebih baik dengan
melakukan penelitian di dalam pembelajarannya.
B. KONSEP
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
1. Pengertian
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau disebut juga dengan Classroom Action Research
(CAR) adalah penelitian tindakan yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu
praktik pembelajaran di kelas. Fokus PTK adalah pada warga belajar atau pada
proses pembelajaran yang terjadi di kelas.
Kusnandar (2008 : 41) yang menyatakan bahwa :
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (Classroom Action Research) memiliki peranan
yang sangat penting dan strategis untuk meningkatkan mutu pembelajaran apabila
di implementasikan dengan baik dan benar. Pendapat senada
diungkapkan Kasbolah (1998 : 12) yang
menyatakan bahwa “ Penelitian tindakan kelas adalah penelitian praktis yang
dimaksudkan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas. Upaya perbaikan ini
dilakukan dengan melaksanakan tindakan untuk mencari jawaban atas permasalahan
yang diangkat dari kegiatan sehari-hari di kelas “.
Sejalan dengan pendapat di atas, Kemmis dan
Mc. Taggart (dalam Kusnandar, 2008 : 42-43 ) mengatakan bahwa penelitian
tindakan kelas merupakan suatu bentuk self-inquiry kolektif yang dilakukan oleh para partisipan
di dalam situasi sosial untuk meningkatkan rasionalitas dan keadilan dari
praktik sosial atau pendidikan yang mereka lakukan, serta mempertinggi
pemahaman mereka terhadap praktik dan situasi dimana praktik itu dilaksanakan
.
2. Tujuan
PTK
Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang
terjadi di kelas dan meningkatkan kegiatan nyata tutor dalam pengembangan
profesionalnya. Secara rinci, tujuan PTK antara lain:
1. Meningkatkan
mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
2. Membantu tenaga kependidikan mengatasi masalah
pembelajaran.
3. Meningkatkan
sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan.
4. Menumbuhkembangkan
budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif dalam
melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan.
Mengapa Penelitian ini
diperlukan? Karena :
a.
Merupakan pendekatan bagi pemecahan masalah yang bukan
sekedar trial and error.
b.
Menggarap masalah-masalah faktual yang dihadapi tenaga
pendidik dalam pembelajaran.
·
tutor tidak perlu meninggalkan tugas utamanya
·
tutor sebagai
peneliti
c.
Dapat segera dilaksanakan pada saat muncul kebutuhan.
d.
Dilaksanakan
dengan tujuan perbaikan
e.
Murah
biayanya.
f.
Disain
lentur/fleksibel
g.
Analisis
data seketika
h.
Manfaat
jelas & langsung
3. Apa Saja yang dapat di Kaji melalui PTK
Masalah-masalah yang dapat dikaji melalui PTK yaitu :
a.
Berasal dari kondisi nyata di lapangan.
b.
Benar-benar mendesak untuk dilaksanakan.
c.
Menunjukkan harapan (berpotensi) untuk dapat diselesaikan
d.
Penyelesaiannya merupakan perbaikan kualitas proses dan
hasil pembelajaran
4.
Cakupan masalah untuk
PTK cukup luas, diantaranya:
a.
Masalah belajar warga belajar di tempat belajar seperti
permasalahan belajar di kelas,di luar kelas, kesalahan pembelajaran,
miskonsepsi, mis-strategi, dan peningkatan hasil belajar warga belajar.
b.
Pengembangan profesionalisme pendidik dalam peningkatan
mutu perancangan, pelaksanaan dan evaluasi program pengajaran.
c.
Pengelolaan dan pengendalian, misalnya pengenalan teknik
modifikasi perilaku, teknik memotivasi, dan teknik pengembangan potensi diri.
d.
Desain dan strategi pembelajaran di kelas, misalnya
pengelolaan dan prosedur pembelajaran, implementasi dan inovasi metode
pembelajaran, atau interaksi di dalam kelas, partisipasi orangtua dalam proses
belajar warga belajar.
e.
Penanaman dan pengembangan sikap serta nilai-nilai,
misalnya pengembangan pola berpikir ilmiah dalam diri warga belajar.
f.
Pengembangan pribadi warga belajar, pendidik, dan tenaga
kependidikan lainnya (termasuk dalam tema ini antara lain: peningkatan kemandirian
dan tanggungjawab peserta didik, peningkatan keefektifan hubungan antara
pendidik- warga belajar dan orangtua dalam PBM, peningkatan konsep diri peserta
didik).
g.
Alat bantu, media dan sumber belajar. Termasuk dalam tema
ini, antara lain masalah penggunaan media, perpustakan, sumber belajar di
dalam/di luar kelas, peningkatan hubungan antara sekolah dan masyarakat.
h.
Sistem asesmen dan evaluasi proses dan hasil pembelajaran
(termasuk dalam tema ini, antara lain: masalah evaluasi awal dan hasil pembelajaran,
pengembangan instrumen asesmen berbasis kompetensi).
i.
Masalah kurikulum, misalnya implementasi kurikulum.
5. Model
PTK
Model-model Penelitian
Tindakan Kelas, yaitu :
1. Design Penelitian Tindakan
Model Kurt Lewin
Model Kurt Lewin
menjadi acuan pokok atau dasar dari adanya berbagai model penelitian tindakan
yang lain, khususnya PTK. Dikatakan demikian, karena dialah yang pertama kali
memperkenalkan Action Research atau penelitian tindakan.
Konsep pokok penelitian tindakan Model
Kurt Lewin terdiri dari empat komponen, yaitu ; a) perencanaan (planning), b)
tindakan (acting), c) pengamatan (observing), dan d) refleksi (reflecting).
Hubungan keempat komponen tersebut dipandang sebagai siklus yang dapat
digambarkan sebagai berikut:
2. Design PTK Model Kemmis
& McTaggart
Kemmis & McTaggart merupakan pengembangan
dari konsep dasar yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin sebagaimana yang
diutarakan di atas. Hanya saja, komponen acting (tindakan) dengan observing
(pengamatan) dijadikan sebagai satu kesatuan. Disatukannya kedua komponen
tersebut disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa antara implementasi acting dan
observing merupakan dua kegiatan yang tidak terpisahkan. Maksudnya, kedua
kegiatan haruslah dilakukan dalam satu kesatuan waktu, begitu berlangsungnya
suatu tindakan begitu pula observasi juga harus dilaksanakan. Untuk lebih
tepatnya, berikut ini dikemukakan bentuk designnya (Kemmis & McTaggart,
1990:14).
Apabila
dicermati, model yang dikemukakan oleh Kemmis & McTaggart pada hakekatnya
berupa perangkat-perangkat atau untaian-untaian dengan satu perangkat terdiri
dari empat komponen, yaitu ; perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi.
Keempat komponen yang berupa untaian tersebut dipandang sebagai satu siklus.
Oleh karena itu, pengertian siklus pada kesempatan ini adalah suatu putaran
kegiatan yang terdiri dari perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi.Pada gambar diatas, tampak bahwa didalamnya terdiri dari dua perangkat komponen yang dapat dikatakan sebagai dua siklus. Untuk pelaksanaan sesungguhnya, jumlah siklus sangat bergantung kepada permasalahan yang perlu diselesaikan.
C. IMPLEMENTASI
PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) DI PENDIDIKAN KESETARAAN PROGRAM PAKET A
Kita mengenal program Paket A, Di lapangan
penyelenggaraannya beragam dan diselenggarakan di berbagai situasi. Ada yang
dilaksanakan di dalam kelas (ruangan), ada pula yang diluar kelas (luar ruangan).
Tutor sebagai tenaga pengajar pun kadang harus mampu menyesuaikan dengan
kondisi ini sehingga dituntut memiliki kemampuan dalam menyampaikan materi.
Tutor sebagai pendidik yang mentransfer ilmu
pengetahuan dan keterampilan pada warga belajar dalam rutinitas mengajarnya
tentu selalu dituntut agar hasil pembelajarannya maksimal dan selalu terjadi
perbaikan dalam proses pembelajarannya, sementara berbagai kendala tentunya
akan muncul ketika proses pembelajaran itu dilakukan.
Sebagai pendidik tentunya tutor selalu mengharapkan
agar proses pembelajarannya berhasil dan mencapai tujuan, oleh karena itu untuk
meminimalisir berbagai kendala dan mencoba untuk selalu memperbaiki kualitas
pembelajaran dan hasil belajar maka tutor bisa melakukan penelitian sendiri di
dalam kelasnya, atau pun di tempat belajarnya.
Ada beberapa hal yang perlu disiapkan jika tutor
hendak mencoba untuk melakukan penelitian tindakan dikelasnya, yaitu :
a. Ketika dikelas atau di dalam pembelajarannya terjadi
masalah yang bersifat mendesak untuk dipecahkan
b. Tutor memiliki waktu yang cukup untuk melakukan
penelitian ini
c. Ada tutor lain yang mau membantu sebagai pihak
pemantau pada saat pembelajaran
d. Ada sarana dan prasarana pendukung seperti media
belajar
Cara melakukan penelitian tindakan kelas (PTK)
Penelitian ini dilakukan di dalam rangka memperbaiki
kualitas pembelajaran, dan hasil belajar. Meskipun namanya penelitian tindakan
kelas tetapi bisa dilaksanakan di luar kelas artinya dalam sebuah proses
pembelajaran.
Tahap-tahap yang bisa dilakukan oleh tutor dalam
melakukan penelitian tindakan kelas ini tidak terlepas dari alur PTK Secara
sederhana implementasi penelitian tindakan kelas di dalam pembelajaran program
paket A yaitu :
1.
Observasi
dan Identifikasi masalah
Kegiatan
yang dilakukan :
a. Melakukan
kegiatan orientasi dan observasi dengan fokus perhatian terhadap pelaksanaan
pembelajaran di kelas atau dalam pembelajaran
b. Mengidentifikasi
permasalahan yang dirasakan dalam pembelajaran, misal pembelajaran IPA
c. Menetapkan
prioritas masalah pembelajaran IPA di tingkat I derajat dasar atau setara kelas
4, 5 dan 6 SD , berdasarkan hasil identifikasi masalah, prioritas masalah yaitu
pada standar kompetensi Mahluk Hidup dan kehidupannya, point 4. Memahami daur hidup
beragam jenis makhluk hidup
d. Menetapkan
alternatif pemecahan masalah. Dalam
hal ini kesulitan siswa dalam memahami konsep pembagian, solusi yang akan
dicoba dengan penggunaan alat peraga gambar daur hidup hewan .
2. Perencanaan
Tindakan
Kegiatan
yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah :
a. Membuat
rencana pembelajaran termasuk skenario pembelajaran Memahami daur hidup hewan
dengan menggunakan gambar daur hidup hewan .
b. Membuat
lembar observasi untuk mengamati bagaimana proses pembelajaran memahami daur
hidup hewan dengan menggunakan media belajar gambar daur hidup hewan
c. Menyiapkan
alat bantu pembelajaran berupa gambar
daur hidup hewan .
d. Membuat
alat evaluasi untuk dapat melihat sejauhmana peningkatan penguasaan siswa.
3. Pelaksanaan
Tindakan
Pelaksanaan
tindakan pada prinsipnya merupakan realisasi dari suatu tindakan yang sudah
direncanakan. Dalam hal ini skenario
pembelajaran yang terdapat dalam rencana pembelajaran.
4. Observasi
Pada
tahap ini dilakukan proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan yang
menggunakan lembar observasi untuk melihat bagaimana penggunaan media gambar
daur hidup hewan dilaksanakan.
5. Refleksi
Dilakukan dengan cara
kolaboratif, yaitu mendiskusikan mengenai berbagai masalah yang terjadi di
kelas atau dalam pembelajaran dengan para partisipan yang terkait, hasil yang
didapat dalam tahap observasi
Tutor
juga harus menentukan Indikator Kinerja. Indikator Kinerja adalah suatu
kriteria yang digunakan untuk melihat tingkat keberhasilan dari kegiatan PTK
dalam meningkatkan atau memperbaiki mutu PBM.
Tahap-tahap diatas dilaksanakan dalam tiga siklus,
setiap siklus dibandingkan hasilnya dan dilakukan perbaikan-perbaikan, Ketika
tutor sudah merasa puas dan memperoleh hasil bahwa pembelajaran telah berhasil
meningkatkan hasil belajar maka tahapan penelitian bisa dilakukan dalam dua
siklus saja.
Dilihat dari ruang lingkup, tujuan, metode, dan
prakteknya, penelitian ini dapat dianggap sebagai
penelitian ilmiah micro. Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat
partisipatif dan kolaboratif. Maksudya, penelitiannya dilakukan sendiri oleh
peneliti, dan diamati bersama dengan rekan-rekannya.
Intrumen yang digunakan bisa berbentuk tes tertulis
dan observasi kelas. Tes tertulis diberikan oleh tutor kepada warga belajar terkait materi dan
observasi kelas dilakukan oleh observer yang mengamati proses pembelajaran.
Observer mengamati berbagai peristiwa yang terjadi sejak awal pembelajaran
sampai akhir pembelajaran, dan mencatatnya sebagai bahan masukan pada refleksi.
Tiap siklus tahap-tahapan tersebut dilakukan, tahap
refleksi. Refleksi ini dilakukan untuk mendapatkan revisi-revisi terhadap
kinerja yang selama ini dilakukan. Dari pengalaman melakukan penelitian ini
tutor paling tidak akan menemukan kesimpulan atas masalah-masalah yang
dihadapinya dan tentunya telah terjadi sebuah upaya perbaikan terhadap proses pembelajarannya.
BAB III
KESIMPULAN
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bisa dilakukan di
dalam proses pembelajaran di program Paket A, meskipun tidak selamanya
penelitian ini dilakukan di dalam kelas karena memang kondisi lapangan
menunjukkan bahwa program paket A dilaksanakan di luar kelas seperti di kebun,
lahan pertanian, sungai dan lain-lain sesuai kondisi daerah dan keprluan warga
belajar. Namun penelitian ini paling tidak bisa dilakukan oleh tutor untuk
memperbaiki kualitas pembelajaran dan kinerja tutor sendiri dan disesuaikan
dengan kondisi masing-masing yang penting masih dalam konteks penelitian untuk
memperbaiki proses pembelajaran.
Penelitian ini bisa dilakukan oleh tutor tanpa
menggangu rutinitas pembelajaran tutor, karena memang penelitian ini dilakukan
dalam proses pembelajaran sambil tutor mengajar. Meskipun sajian ini makalah
ini masih terbatas, mudah-mudahan memberikan sumbangan pemiran bagi tutor di
lapangan.
0 Responses to “Contoh Makalah PNF (pendidikan nonformal)”
Posting Komentar